SDN Tugurejo 03

Urban Farming Di Sekolah: Bukan Sekadar Menanam, Tetapi Menanam Kesadaran Lingkungan

 

Author: Ahmad Ainun Nadhif (Alumnus Pasca Sarjana UIN Salatiga)

 

Isu lingkungan saat ini bukan lagi sekadar wacana global yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan telah menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah. Perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan berkurangnya ruang hijau merupakan tantangan nyata yang membutuhkan solusi konkret. Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran yang sangat strategis. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, termasuk karakter peduli lingkungan. Salah satu langkah nyata yang patut diapresiasi adalah implementasi program urban farming seperti yang dilakukan di SDN Tugurejo 03 Semarang.

Urban farming sering kali dipahami secara sederhana sebagai kegiatan bercocok tanam di lahan terbatas. Namun, jika dilihat lebih dalam, urban farming memiliki potensi yang jauh lebih besar, terutama dalam dunia pendidikan. Program ini bukan hanya soal menanam sayuran atau tanaman hias, melainkan tentang menanam nilai, membangun kesadaran, dan membentuk kebiasaan baik sejak dini. Apa yang dilakukan oleh SDN Tugurejo 03 Semarang menunjukkan bahwa urban farming dapat menjadi media pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan berdampak langsung terhadap kehidupan siswa.

Kegiatan seperti gerakan menanam, kerja bakti, pengolahan sampah organik, hingga pengelolaan kebun sekolah bukanlah aktivitas yang berdiri sendiri. Semua kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran yang utuh. Ketika siswa menanam, mereka belajar tentang siklus hidup tanaman. Ketika mereka mengolah sampah menjadi kompos, mereka memahami konsep daur ulang dan keberlanjutan. Ketika mereka bekerja dalam kelompok untuk merawat kebun, mereka belajar tentang tanggung jawab dan kerja sama. Bahkan, ketika hasil panen diolah dalam lomba memasak, siswa belajar tentang kreativitas dan pemanfaatan sumber daya secara optimal.

Di sinilah letak kekuatan urban farming sebagai pendekatan pendidikan. Ia menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara bersamaan. Siswa tidak hanya tahu (knowing), tetapi juga merasakan (feeling) dan melakukan (doing). Pendekatan seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini yang menekankan pada pembelajaran bermakna (meaningful learning).

Namun, keberhasilan program urban farming tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan komitmen dari seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga siswa. Dukungan kelembagaan menjadi faktor kunci dalam keberlangsungan program. Tanpa adanya dukungan tersebut, program hanya akan menjadi kegiatan seremonial yang tidak berkelanjutan. Apa yang dilakukan di SDN Tugurejo 03 Semarang menunjukkan bahwa ketika semua pihak terlibat secara aktif, program dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata.

Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pelaksanaan urban farming juga menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan sarana dan prasarana, kondisi cuaca yang tidak menentu, serta konsistensi dalam perawatan tanaman menjadi kendala yang sering muncul. Tantangan ini seharusnya tidak dilihat sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Justru dari tantangan inilah siswa belajar tentang ketekunan, kesabaran, dan problem solving.

Lebih jauh lagi, program urban farming memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi gerakan yang lebih luas. Sekolah dapat menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti dinas lingkungan hidup, dinas pertanian, atau komunitas pecinta lingkungan. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat program, tetapi juga membuka peluang bagi siswa untuk belajar dari sumber yang lebih beragam. Dengan demikian, urban farming tidak hanya menjadi program sekolah, tetapi juga bagian dari gerakan sosial yang lebih besar.

Dalam perspektif yang lebih luas, urban farming di sekolah juga sejalan dengan konsep pendidikan berkelanjutan (education for sustainable development). Pendidikan tidak lagi hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata, tetapi juga pada pembentukan individu yang mampu hidup secara harmonis dengan lingkungan. Program seperti ini menjadi sangat relevan di tengah meningkatnya kesadaran global akan pentingnya menjaga keberlanjutan bumi.

Namun demikian, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian bersama, yaitu bagaimana menjaga keberlanjutan program ini. Banyak program sekolah yang berjalan baik di awal, tetapi kemudian meredup karena kurangnya evaluasi dan pengembangan. Oleh karena itu, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi yang jelas agar program urban farming dapat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang.

Selain itu, penting juga untuk mengintegrasikan program urban farming ke dalam kurikulum pembelajaran. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi aktivitas tambahan, tetapi menjadi bagian dari proses belajar yang terstruktur. Guru dapat mengaitkan kegiatan urban farming dengan berbagai mata pelajaran, seperti IPA, IPS, bahkan matematika dan bahasa. Integrasi ini akan membuat pembelajaran menjadi lebih hidup dan relevan.

Pada akhirnya, urban farming bukan sekadar tentang menanam tanaman, tetapi tentang menanam kesadaran. Kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari lingkungan, bukan penguasa yang bebas mengeksploitasi. Kesadaran bahwa setiap tindakan kecil, seperti menanam atau mengolah sampah, memiliki dampak besar bagi keberlanjutan bumi. Dan yang paling penting, kesadaran ini perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan.

Apa yang dilakukan oleh SDN Tugurejo 03 Semarang patut menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain. Program ini membuktikan bahwa dengan kreativitas dan komitmen, sekolah dapat menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan. Jika program seperti ini dapat direplikasi secara luas, bukan tidak mungkin kita akan melihat generasi muda yang lebih peduli, lebih bertanggung jawab, dan lebih siap menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.

Dengan demikian, urban farming di sekolah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kebutuhan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis yang tinggi. Karena pada akhirnya, masa depan lingkungan ada di tangan mereka yang hari ini sedang belajar di bangku sekolah.